Skip to main content

Grup

Dunia berada dalam genggamanmu. Pepatah itu ada benarnya. Ada karena tidak seluruhnya benar. Tentu saja jika yang berada dalam genggamanmu ponsel smart.
Jikalau ponsel jadul, hanya mampu untuk sms atau menelefon dengan tampilan sederhana. Itupun sudah lumayan dibandingkan telepon rumah. Ponsel mudah dibawa ke mana-mana.
Dengan ponsel, phablet, tablet, atau apa pun namanya, kita mampu menjelajah. Ada syaratnya. Selama terhubung dengan jaringan internet. Jika sebelumnya kita menjelajah mesti secara fisik tubuh, kini tubuh cukup di suatu tempat.
Dengan perangkat tadi, kita dapat menjangkau bahkan bertransaksi dengan orang lain yang berbeda dan sangat jauh jaraknya. Kita terhubung dengan orang lain. Bahkan banyak orang yang tidak terduga-duga sebelumnya. Di mana saja. Kapan saja. Dua puluh empat jam nonstop sesuai daya tahan.
Kemudian, maraklah apa yang dinamakan tradisi berselancar di dunia maya. Marak juga media sosial. Ada Facebook, Twitter, Line, Wechat, Whatsup, dan masih banyak yang lain. Yang suka ngerumpi di dunia nyata, kini dapat berlanjut di dunia maya.
Dalam sebuah workshop menulis buku, saya menyebut bahwa tradisi kita masih lisan. 
“Kita sudah masuk tradisi menulis,” sanggah seseorang, “menulis status. Di fb, bb, atau di tempat lain.
Jangan heran, tiba-tiba kita membuat grup atau diikutkan grup. Ada grup teman sekolah mulai dari SD hingga mahasiswa. Ada grup hobi mulai dari pecinta sepeda, pecinta kebun, atau pecinta buku.
Ada grup teman sekantor atau teman seprofesi. Ada grup promosi. Maksudnya kita bisa mempromosikan barang atau jasa. Tinggal pilih. Kalau bosan, silakan meninggalkan grup.
Jika ikut banyak  grup yang  kebetulan aktif, maka perangkat kita tidak pernah berhenti bergetar atau bersuara. Seringkali tertawa sendirian. Atau malah bersungut-sungut menggerutu bukan kepalang. Entah kepada siapa. Dengan grup, kita bukan hanya bisa chating, tetapi juga membentuk jaringan. Dunia berada dalam genggamanmu.
Yang menjadi masalah: terlalu banyak yang berada di dalam genggaman sampai bingung mana yang mesti didahulukan. Kita hanya asyik ngobrol di grup. Kita tidak melakukan sesuatu selain ngobrol di grup.*** (Harjito)

Comments